PELESTARIAN BUDAYA BANJAR DALAM KURIKULUM MERDEKA: STRATEGI INTEGRASI MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL
Keywords:
Budaya, Banjar, KurikulumAbstract
Budaya Banjar merupakan salah satu warisan budaya tertua di Nusantara yang terbentuk melalui proses akulturasi antara elemen lokal (Banjar, Melayu, Dayak) dan nilai-nilai Islam. Keunikan budaya ini tercermin dalam berbagai ekspresi tradisional seperti baayun maulid, mamanda, dan madihin. Namun, budaya Banjar saat ini menghadapi tantangan serius akibat globalisasi, urbanisasi, dan lemahnya peran sistem pendidikan dalam pelestarian budaya lokal. Hegemoni kurikulum nasional menyebabkan marginalisasi muatan lokal dalam pendidikan formal, sementara pendekatan pembelajaran yang tidak kontekstual memperlemah pemahaman filosofis budaya Banjar di kalangan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif analitis-kritis berbasis studi literatur untuk mengkaji peran Kurikulum Merdeka sebagai cultural enabler yang mampu menjembatani pendidikan formal dan nonformal. Temuan menunjukkan bahwa pendidikan nonformal seperti sanggar seni memiliki potensi sebagai ruang tanding hegemoni, namun memerlukan dukungan kebijakan afirmatif dan sinergi antara sekolah, komunitas budaya, serta pemanfaatan teknologi digital. Integrasi kurikulum kontekstual berbasis proyek menjadi salah satu strategi kunci untuk memperkuat keberlanjutan budaya Banjar di era disrupsi.